Slider

Berita

dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, MKed (Ped), Sp.A, Ph.D, melakukan pengabdian masyarakat berupa pengobatan umum dan pemeriksaan malaria di Kabupaten Langkat pada hari Jumat (28/06) sampai hari Minggu (30/06). Sasaran dari pengabdian masyarakat ini adalah seluruh penduduk di daerah yang menjadi lokasi pengabdian masyarakat yaitu; desa Telagah, desa Garunggang, desa Bunga Rinte, desa Parit Bindu, desa Adin Tengah, dan desa Pajok, Kabupaten Langkat. Peserta pengabdian masyarakat berjumlah 381 partisipan.

image007Pengabdian Masyarakat dan Mass Blood Survey di Desa Bunga Rinte, Kabupaten Langkat

Dalam kegiatan tersebut, fokus pemeriksaan yang dilakukan oleh dr. Inke meliputi pemeriksaan malaria. Pemeriksaan malaria yang dilakukan merupakan pemeriksaan massa dan pencarian secara aktif pasien malaria pada daerah tersebut. Dengan kegiatan pengabdian masyarakat ini, dr. Inke berharap dapat mengetahui persebaran penyakit malaria terkini dan meningkatnya pengetahuan dan kesadaran pola hidup sehat masyarakat terutama dalam tindakan pencegahan terhadap vektor dan deteksi dini pada penyakit malaria.


image009

Pengabdian Masyarakat dan Mass Blood Survey di Pajok, Kabupaten Langkat

Dalam rangka penelitian Surveillance of Emerging Zoonosis Malaria in Sumatera (Zoomal), mengadakan rangkaian kunjungan lapangan dan pelatihan PCR. Hari senin (05/08) sampai hari Rabu (07/08) rombongan penelitian beserta rombongan Menzies berkunjung ke Rumah Sakit Umum Daerah Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah.

image001111

Kunjungan Menzies ke Rumah Sakit Umum Daerah Pandan Kabupaten, Tapanuli Tengah

Tujuan kunjungan ini agar diberi pemahaman dan kemampuan dasar mengenai pemeriksaan laboratorium Polymerase Chain Reaction yang berkaitan dengan penelitian ini. Selain itu, dilaksanakan juga kunjungan lapangan ke Rumah Sakit Umum Daerah untuk mengobservasi salah satu tempat penelitian.

image003Kunjungan Menzies ke Laboratorium Terpadu Fakultas Kedokteran

Ditemani oleh beberapa anggota penelitian dari pihak Menzies (dr. Matthew Grigg, Ph.D dan dr. Bridget Barber, Ph.D), rangkaian kunjungan ini berupa sosialisasi mengenai zoonosis malaria yang menjadi tantangan baru dalam tahap eliminasi malaria dan mengunjungi beberapa lokasi yang berpotensi menjadi tempat transmisi vektor dan host utama zoonosis malaria.

image005

Sosialisasi Pengenalan Malaria Zoonosis di Rumah Sakit Umum Daerah Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah

Universitas Sumatera Utara menandatangani nota kesepahaman dengan Institut Francais d’Indonesie, yang berlangsung pada Kamis (23/06/16) di gedung BPA USU Kampus Padang Bulan.

Rektor Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. Runtung, SH, MHum, yang didampingi oleh Sekretaris USU Prof. Gontar Siregar, Wakil Rektor II Dr. Fidel Ganis Siregar, Kepala Kantor Urusan Internasional USU Dr. Esther Nababan, Kepala Pusat Bahasa USU Prof. T. Silvana Sinar, Dekan FIB Dr. Budi Agustono, dan Dekan FMIPA Dr. Kerista Sebayang, menyambut baik ikatan kerjasama tersebut dan mengucapkan terima kasih atas terbukanya peluang kerjasama dengan Alianza Francais Medan.

Dikatakannya, kerjasama USU dengan Institut Francais d’Indonesie melalui Alianza Francais Medan telah berlangsung pada masa Rektor sebelumnya. Kerjasama itu, ujarnya, yakni membuka kelas Bahasa Perancis Level A1 dan Level A2. USU juga memiliki warung Perancis yang diresmikan pada tahun 2014 dan terletak di Pusat Bahasa USU. “Pada tahun ini juga ada dua staf pengajar yang melanjutkan studi program doktor di Perancis melalui beasiswa LPDP. Kedua orang itu adalah, Ibu Vivi yang melanjutkan studi S3 di University de Poiter, dan Ibu Joiverdia yang melanjutkan studi S3 di salahsatu perguruan tinggi di Perancis,“ ucap Rektor.

Rektor berharap kerjasama itu dapat terus berlanjut dimasa yang akan datang dengan program yang lebih luas dan bervariasi, serta semakin banyak staf pengajar USU yang melanjutkan studi S3 di Prancis. Sementara Antoine Devencoux du Buysson, atase Kedutaan Perancis di Indonesia, yang didampingi Thomas Simoes (Direktur Alianza Francais Medan), Pogy Kurniawan (President Alianza Francais Medan), Debbie Rosaline (Campus France), dan Irma Tobing (Responsible Pedagogic), mengucapkan terima kasih atas terlaksananya kerjasama tersebut.

Disebutkannya, kerjasama dengan USU sangat penting dimana kedua institusi mendapatkan manfaatnya. Diakuinya kerjasama yang telah berlangsung selama ini telah berjalan baik seperti kelas bahasa Perancis dan adanya Warung Perancis. “Saya juga berharap dengan adanya MoU ini semakin membuka kesempatan bagi kedua pihak untuk mengembangkan program kerjasama ke arah yang lebih luas,” tutup Antoine.

WhatsApp Image 2019 07 23 at 10.59.29 AM

MEDAN – 26 MARET 2019

Malaria masih menjadi tantangan bagi para klinisi, baik dalam mendiagnosis dan dalam melakukan terapi serta eradikasi terhadap infeksi parasit Plasmodium ini. dr. Matthew J Grigg, MBBS, BMedSci, DTMH, PhD dari Menzies Australia hadir memberikan kuliah umum mengenai infeksi malaria dengan judul “The Rise of Zoonotic Malaria in the Elimination Era: Challenges in Surveillance and Control.”

dr. Matthew Grigg yang telah melakukan banyak penelitian mengenai malaria menjelaskan mengenai bagaimana parasit-parasit Plasmodium yang dahulu hanya ditemukan menginfeksi hewan, sekarang telah banyak ditemukan menginfeksi manusia.

Diperkirakan penyebab terjadinya hal ini ialah karena berkurangnya lahan hutan yang harusnya didiami hewan yang merupakan host utama dari parasit ini, sehingga hewan-hewan tersebut beradaptasi dengan bermigrasi ke area berpenduduk. Atau sebaliknya dimana penduduk yang memilih untuk bertempat tinggal di area yang dekat dengan hutan yang didiami para hewan tersebut karena kekurangan area untuk didiami, dan berbagai faktor lain.

Diketahui parasit bergenus Plasmodium memiliki berbagai spesies, dengan terapi yang berbeda untuk tiap infeksi dari tiap spesies. Tantangan juga cukup besar dalam mendiagnosis infeksi malaria dengan tepat dikarenakan kemiripan morfologi mikroskopis dari masing-masing spesies. Ketidaktepatan diagnosis dapat mengakibatkan ketidaktepatan terapi.

Infeksi parasit zoonotic Plasmodium pada manusia umumnya bermanifestasi lebih berat. Namun, dikarenakan kesulitan dalam membedakan parasit zoonotic ini dengan parasit plasmodium lainnya, sering terjadi misdiagnose dan fatalnya menyebabkan kematian.

Kuliah umum dari dr. Matthew Grigg menghimbau agar para klinisi semakin aware terhadap kemungkinan dari infeksi zoonotic Plasmodium untuk menghindari komplikasi yang tidak diinginkan.

[oleh: Monica Nadya S]

WhatsApp Image 2019 07 23 at 11.02.51 AMMatthew J. Grigg dan dr. Inke Nadia P. Lubis selaku Kepala Departemen Magister Ilmu Kedokteran Tropis.

WhatsApp Image 2019 07 23 at 11.02.33 AM

Matthew J. Grigg bersama dengan Staff Dekanat Fakultas Kedokteran USU.

Medan-USU: Perancis melalui duta besarnya Corinne Breuze berkomitmen meningkatkan kerjasama bidang pendidikan dengan Indonesia. Komitmen ini menandai digelarnya 7th Joint Working Group Indonesia-France di Universitas Sumatera Utara, Senin (9/3). Corinne juga menegaskan, pemerintah Perancis akan membantu pengembangan riset di USU khususnya di bidang kesehatan (kedokteran) dan teknik.

Demikian pernyataan Dubes Perancis tersebut saat temu pers usai membuka pertemuan 7th Joint Working Group on Indonesia-French Cooperation in Higher Education and Research di Ruang IMT-GT Biro Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Senin (9/3). Pertemuan yang berlangsung selama dua hari (9-10 Maret 2015) ini mengusung tema "How Education and Research Respond to Sustainable Development?”. Hadir dalam pembukaan even tersebut Menristek Dikti diwakili Direktur pada Direktorat Kelembagaan dan Kerjasama Ditjen Dikti Prof.Ir. Hermawan Kresno Dipojono, MSEE, Ph.D, Rektor USU Prof. DR. dr. Syahril Pasaribu, Direktur IFI Bertrand de Hartingh, mewakili Walikota Medan, Drs. Hasan Basri, MM, para Rektor dari beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. Juga turut hadir Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Prof. Dr. Rochmat Wahab yang juga sebagai Ketua Umum SNMPTN 2015 disamping juga Hadir para rektor dari universitas ternama di Perancis.
 

Sementara itu, Wakil Rektor IV USU Prof. Ningrum Natsya Sirait di sela temu pers tersebut menegaskan, Prancis sangat melirik Rumah Sakit Pendidikan (Fakultas Kedokteran) USU termasuk dengan Fakultas Teknik. Rumah Sakit USU diproyeksikan akan unggul dalam penanganan tropical medis dan menjadi daya tarik bagi Prancis untuk membantu mengembangkan riset ilmiah terkait penyakit tropis. “Jadi bukan operasional rumah sakitnya, lebih kepada risetnya. Perancis memiliki ilmuan dan periset yang bagus, jadi saat ini kita coba menjajaki hal mana yang menjadi perioritas yang bisa dikerjasamakan. Bila sudah ketemu, akan kita sandingkan,” katanya.


 

Menristek Dikti diwakili Direktur pada Direktorat Kelembagaan dan Kerjasama Ditjen Dikti Prof.Ir. Hermawan Kresno Dipojono, MSEE, Ph.D dalam kesempatan temu pers itu juga menambahkan, selain dalam pengembangan riset, kerjasama dengan Prancis juga masuk dalam ranah pertukaran budaya. Tentu sangat baik bagi kedua negara karena dapat meningkatkan daya saing bangsa. Peningkatan kerjasama yang saat ini sedang dijalin, tambahnya, melingkupi kerjasama dalam program joint degree, double degree, joint public di dalam riset dan pertukaran dosen dan mahasiswa. Duta Besar Prancis Corinne Breuze mengatakan, dari kerjasama itu ia berharap dapat meningkatkan minat mahasiswa Indonesia studi ke Prancis. Mengingat, kini ada sekitar 1.500 mahasiswa Indonesia di Prancis.    

Bidang studi yang banyak diambil oleh para mahasiswa Indonesia adalah Engenering, MIPA, Kesehatan dan Manajemen Perdagangan. Prancis memberikan beasiswa atau asuransi kesehatan, Indonesia memberikan beasiswa untuk biaya hidup. Bertrand de Hartingh Konselor Kerjasama dan Kebudayaan Direktur IFI menjelaskan, untuk kuliah di Prancis harus bisa berbahasa Prancis. Sekarang ini sudah ada 7 orang yang siap berangkat ke Prancis. Juga dijelaskan banyak pengusaha Prancis yang mau membuka peluang usaha di Indonesia.

Sementara Rektor USU Prof. Syahril Pasaribu mengatakan, kerjasama dilakukan beberapa Universitas di Indonesia dengan universitas di Prancis. Diperkirakan sekitar 10 Universitas yang melakukan kerjasama, dan nanti akan dipilih kementrian. Banyak sekali manfaat kerjasama ini, tahun 1990-an banyak dosen kita yang sekolah ke Prancis, namun terhenti dan sekarang akan kita mulai lagi.(humas)

Page 2 of 2